Industri Kayu Indonesia–Malaysia Perkuat Kolaborasi Hadapi Tantangan Perdagangan Global
Industri Kayu Indonesia–Malaysia Perkuat Kolaborasi Hadapi Tantangan Perdagangan Global
02 Jun 2026, 14:13
Industri Kayu Indonesia–Malaysia Perkuat Kolaborasi Hadapi Tantangan Perdagangan Global
Surabaya, 2 Juni 2026 – Pelaku industri kehutanan dan produk kayu Indonesia yang tergabung dalam APKINDO, APHI, dan ISWA menerima kunjungan delegasi The Timber Exporters’ Association of Malaysia (TEAM) dalam sebuah pertemuan bisnis yang berlangsung di Morazen Hotel Surabaya. Pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk membahas berbagai tantangan bersama yang dihadapi industri kayu kedua negara di tengah meningkatnya tekanan regulasi perdagangan internasional.
Delegasi Malaysia terdiri dari 14 eksportir kayu gergajian (sawn timber), satu eksportir plywood, satu pelaku usaha arang dan biomassa, serta satu perusahaan logistik dan freight forwarder. Dari Indonesia hadir perwakilan APKINDO, APHI, ISWA, serta sejumlah perusahaan anggota industri kayu nasional.
Salah satu isu utama yang menjadi perhatian bersama adalah kebijakan Anti-Dumping (AD) dan Countervailing Duties (CVD) yang diterapkan Amerika Serikat terhadap berbagai produk kayu. Kebijakan tersebut dinilai meningkatkan biaya ekspor dan menimbulkan ketidakpastian bagi industri kayu, khususnya sektor furnitur Malaysia yang lebih dari 50 persen ekspornya ditujukan ke pasar Amerika Serikat.
Selain itu, kedua pihak juga menyoroti implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR). Malaysia menyampaikan keberatannya atas penetapan status “standard risk” oleh Uni Eropa dan berharap pengakuan yang lebih besar terhadap sistem sertifikasi nasional. Indonesia dan Malaysia saat ini telah membentuk Ad Hoc Joint Task Force untuk memperjuangkan pengakuan terhadap skema sertifikasi nasional, termasuk SVLK Plus dari Indonesia dan Malaysian Timber Certification Scheme (MTCS).
Isu lain yang mengemuka adalah usulan Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk memasukkan kelompok spesies Shorea spp. (Meranti, Seraya, dan Balau) ke dalam CITES Appendix II. Industri kayu Malaysia menilai langkah tersebut berpotensi menambah beban administrasi, biaya dokumentasi, serta memperlambat arus perdagangan produk kayu tropis.
Dalam diskusi, delegasi Malaysia juga menyampaikan dampak konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan kayu dunia. Gangguan jalur pelayaran menyebabkan biaya pengiriman ke kawasan tersebut meningkat lebih dari 50 persen, sementara premi asuransi maritim turut melonjak.
Dari sisi perdagangan bilateral, Indonesia menegaskan pentingnya pasar Malaysia bagi produk panel kayu nasional. Data APKINDO menunjukkan Malaysia merupakan tujuan ekspor produk panel kayu Indonesia terbesar ketiga setelah Jepang dan Amerika Serikat, dengan pangsa sekitar 15 persen dari total volume ekspor panel kayu Indonesia pada awal 2026.
Dalam pertemuan tersebut, TEAM juga menyampaikan harapan agar dapat memperoleh pasokan kayu gergajian Indonesia dengan ukuran penampang yang lebih besar. Namun, pihak Indonesia menjelaskan bahwa regulasi nasional saat ini masih berorientasi pada perlindungan bahan baku dan peningkatan nilai tambah industri dalam negeri sehingga permintaan tersebut sulit dipenuhi.
Pertemuan Surabaya ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia dan Malaysia merupakan pesaing di sejumlah pasar ekspor, kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menghadapi regulasi global yang semakin ketat. Kolaborasi regional dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri kayu ASEAN di pasar internasional. (geo_rob)